Kumpulan Humor Kristen Tentang Pendeta - Masamos.com

Kumpulan Humor Kristen Tentang Pendeta

Kumpulan Humor Kristen Tentang Pendeta

Masamos | Kumpulan humor Kristen tentang Pendeta -  yang lucu ini semoga dapat menyegarkan pikiran kita sejenak dalam beraktifitas seharian. Humor tentang Pendeta ini hanya dimaksudkan untuk menambah sukacita, menambah gairah dalam pelayanan, dan tidak dimaksudkan untuk memojokkan seseorang, kelompok, bahkan menyangkut SARA.

Pendeta dan Seorang Ateis


Seorang pendeta tua berada di sebuah pesawat terbang dan duduk di samping seorang yang mengaku sebagai ateis.

Mereka dengan damai mengobrol selama perjalanan.

Sesekali, cucu pendeta itu, duduk di baris kursi yang lain, datang kepadanya, membawakan dia minum, dan bertanya apakah ia bisa mengambilkan sesuatu untuk membuatnya lebih nyaman.

Setelah ini terjadi beberapa kali, si ateis mulai mengeluh, "Saya berharap cucu-cucu saya akan memperlakukan saya dengan hormat seperti itu. Mereka bahkan nyaris tidak menyapa saya. Apa rahasianya?"

Pendeta itu menjawab: "Cucu-cucu saya berpikir, saya dua generasi lebih dekat dengan Adam dan Hawa, dua individu yang dibuat oleh tangan Tuhan. Jadi mereka menghormati saya. Namun menurut filosofi yang Anda ajarkan... cucu anda berpikir Anda adalah dua generasi lebih dekat dengan monyet. Jadi mengapa mereka harus menghormati Anda?"


Pendeta yang Memiliki Karunia Menyembuhkan


Seorang pria yang sudah tua bertemu dengan seorang pendeta yang memiliki karunia untuk menyembuhkan.

Orang tua: "Dapatkah Anda membuat saya bisa ereksi?"

Pendeta penyembuh: "Saya bisa membuat orang buta melihat, membuat orang lumpuh berjalan dan dan saya bahkan bisa menyembuhkan kanker Tapi, maaf saya tidak bisa membangkitkan yang 'sudah mati'..."


Cara Pandang Pendeta dan Petani


Hari itu adalah pagi yang dingin dan berkabut dengan hujan yang sangat lebat di sebuah desa dan hanya seorang petani dan seorang pendeta yang berhasil tiba di gereja untuk kebaktian pagi.

"Yah", kata pendeta "Saya kira tidak ada gunanya kita melakukan kebaktian hari ini."

"Wah, saya melihatnya tidak seperti itu," kata petani itu, "Di rumah saya, jika hanya satu ekor sapi yang muncul pada waktu makan, saya akan tetap memberi makan sapi itu."


Pendeta dan Petugas Kantor Pajak


Menjawab telepon, seorang pendeta terkejut mendengar penelepon memperkenalkan dirinya sebagai auditor dari Kantor Pajak.

"Tapi kami tidak membayar pajak," kata pendeta itu.

"Ini bukan mengenai anda, Bapa, itu salah satu jemaat anda, Bartolomeus Sukarto. Dia mengisi pada bagian pengurangan pajak yang menyatakan bahwa ia memberi sumbangan
Rp.100 juta untuk gereja tahun lalu. Apakah ini benar?"

Pendeta itu tersenyum lebar. "Cek itu belum sampai di temapt kami, tapi saya yakin saya akan memilikinya ketika saya mengingatkan saudara Barto."


Anak Pendeta Pasang Tato


Sally, anak pendeta yang sedikit genit, suatu hari merayu ke papanya, Pendeta Julian yang sangat taat.

Sally: "Papa, semua teman di sekolah ‎pasang tato, aku juga mau..."

Pdt Julian:‎"Yya gimanapun kamu anak pendeta, masa sih tatoan? Apa kata jemaat papa nanti?"

Sally: "Tapi pa, keren, seksi pa... Di tempat yang ketutup baju dhe pa, yang penting ada... biar gak dikatain kampungan‎."

Pdt Julian diam saja...

Sally:‎ "Kalau papa ga boleh Sally ga mau sekolah lagi!"

Pdt Julian: "Ya sudah kamu boleh tato dimanapun, tapi papa yang pilih gambarnya ya."

Sally: "Bener pa? Sally boleh tato di pundak juga?"

Pdt Julian‎: "Boleh aja, tapi inget papa yang pilih gambarnya ya. Dan papa yang anter ke tukang tatonya."

Sally: "Horeee‎, makasih papa. Ngomong-ngomong papa mau pilih gambar apa?"

Pdt Julian: "Gambar tahi lalat!"

Sally: "Yach papa, sama aja bohong dah!"

Pdt Julian: "Hehehe.."


Merampok di Rumah Pendeta


Tius pergi merampok di rumah Pendeta Yohanes. Dalam ruangan yang gelap Tius mulai mengambil perhiasan-perhiasan milik istri Pendeta.. Tiba-tiba Pendeta kaget bangun.

Pendeta : "Hey, tahukah kamu bahwa mencuri itu dosa..?"

Karena gugup Tius jawab: "Hai Yohanes, bukankah ada tertulis 'SESUNGGUHNYA AKU BERKATA KEPADA KAMU, AKU AKAN DATANG SEPERTI PENCURI PADA MALAM HARI'..."

Pendeta : "Ahh..! Engkaukah itu ya Bapa..?"

Tius : "Yoi Bro.. Sudah tau nanya lagi..."


Pendeta Liburan


Dua orang pendeta memutuskan untuk pergi liburan ke Bali dan mereka bertekad untuk membuat satu liburan yang sesungguhnya dengan tidak mengenakan apa-apa yang akan mengidentifikasi mereka sebagai pendeta. Begitu pesawat mendarat, mereka menuju sebuah toko dan membeli beberapa celana pendek, kaos, sandal, kacamata hitam.

Keesokan harinya mereka pergi ke pantai mengenakan pakaian "turis" mereka. Mereka duduk di kursi pantai, menikmati minuman, sinar matahari dan pemandangan ketika ada gadis cantik datang berjalan lurus menuju mereka. Gadis itu melewati mereka ia tersenyum dan berkata, "Pagi Bapa..."

Mereka berdua terpana. Bagaimana di dunia dia tahu bahwa mereka adalah pendeta?

Jadi hari berikutnya, mereka kembali ke toko membeli pakaian lain dan dalam pakaian baru mereka, mereka duduk di kursi mereka untuk menikmati sinar matahari.

Setelah beberapa saat, si gadis cantik yang sama, meluangkan waktunya, datang berjalan ke arah mereka. Lagi-lagi ia mengangguk pada setiap dari mereka, dan berkata "Pagi Bapa..." dan mulai berjalan pergi.

Salah satu imam tidak tahan lagi dan berkata, "Tunggu sebentar, nona muda."

"Ya, Bapa?"

"Kami adalah pendeta dan bangga akan hal itu, tapi aku harus tahu, bagaimana di dunia ini Anda tahu kami adalah pendeta, dengan pakaian seperti ini?"

Dia menjawab, "Bapa, ini aku, Suster Kathleen..."


Pengakuan Pencuri Ayam Pada Pendeta


Yuki adalah seorang pencuri ayam yang sangat terkenal di kampungnya. Hampir setiap minggu dia sukses mencuri ayam tetangganya. Suatu hari dia mendatangi seorang pendeta untuk menyatakan tobat.

YUKI : "Pak Pendeta, saya akan bertobat, saya kemarin telah mencuri ayam... Maafkanlah dosa saya."
PENDETA : "Saya tidak bisa mengampunimu, hanya Tuhan yang bisa melakukannya."
YUKI : "Lalu, apa yang harus saya lakukan pada ayam curian saya ini?"
PENDETA : "Kembalikannlah ayam itu kepada pemiliknya."
YUKI : "Maukah Pak Pendeta mengambil ayam ini?"
PENDETA : "Tidak, saya sudah bilang kembalikan saja kepada pemiliknya."
YUKI : "Jadi Pak Pendeta benar-benar tidak mau menerima ayam ini?"
PENDETA : "Sekali tidak, tetap tidak!
YUKI : "Bener nih??"
PENDETA : "Iya, betul!!"
YUKI : "Lantas bagaimana kalau pemiliknya tetap bersikeras tidak mau menerima ayam ini?"
PENDETA : "Hm, kalau begitu bawa pulang saja ayam itu dan rawatlah baik-baik!"
YUKI : "Terima kasih, Pak Pendeta."

Yuki pun pulang ke rumah dengan ayamnya, Pak Pendeta pun masuk ke dalam rumah dan kaget sekali karena AYAMNYA HILANG SATU!!



Pendeta dan Aktor


Seorang Pendeta yang sedang melihat pertunjukkan seorang aktor tertarik ingin mengetahui rahasia bagaimana aktor itu dapat menarik perhatian banyak orang.

Sesudah pertunjukkan itu berakhir, Pendeta itu segera pergi ke belakang panggung untuk menemui aktor tadi. "Pak, kami para Pendeta selalu menceritakan kepada jemaat tentang kehidupan kekal yang kelak mereka hadapi, tetapi mengapa mereka lebih tertarik untuk menghadiri pertunjukkanmu?

"Karena," jawab aktor itu sambil mengedipkan matanya, "kebenaran yang Bapak khotbahkan seolah-olah seperti cerita fiksi, sedangkan saya memerankan cerita fiksi yang seolah-olah benar terjadi."


Parkir Khusus Pendeta


Seorang pendeta mendapat kesukaran sehubungan dengan tempat parkir yang telah disediakan untuk dirinya di halaman gereja. Agaknya, para pengunjung gereja memarkir mobil mereka semaunya, walaupun jelas-jelas sudah ada tanda bahwa tempat itu diperuntukkan bagi orang tertentu.

Pendeta itu mengira bahwa tandanya kurang jelas sehingga ia minta ditambahkan, "Disediakan untuk pendeta". Namun kenyataannya, pengunjung gereja masih memarkir kendaraan mereka di tempat itu juga. Mungkin diperlukan tanda yang lebih tegas lagi, pikir sang pendeta. Kemudian ia mengubahnya menjadi: "Tuhan menyediakan tempat ini untuk hamba-Nya". Namun, hal ini pun tidak membuahkan sesuatu yang diharapkan.

Akhirnya setelah merasa kesal, ia memunyai suatu ide yang bagus. Hasilnya adalah bahwa sejak dipasang tanda yang terakhir itu, tidak ada seorang pun yang memarkir mobilnya di tempat pendeta itu. Tandanya berbunyi: "Siapa yang memarkir mobilnya di tempat ini diharuskan berkhotbah pada hari Minggu berikutnya".


Pendeta Khotbah Untuk Pertama Kalinya


Seorang Pendeta berdiri di atas mimbar untuk membawakan khotbah pertamanya. Ia sangat gugup sampai-sampai ia hampir tidak dapat berbicara. Namun, ia telah menulis khotbah bagus yang panjang, jadi ia terus membacanya.

"Yang keras!" teriak seorang pria yang duduk di bagian belakang. "Kami tidak bisa mendengarmu di sini!"

Pemuda itu mencoba untuk berbicara lebih keras, namun sesaat kemudian pria itu berteriak lagi, "Kami tidak bisa mendengarmu!"

Pemuda itu mencoba berbicara lebih keras lagi, namun ia menjadi semakin ketakutan. Akhirnya, pria yang ada duduk di bagian belakang itu berdiri dan berteriak lagi, "Kami tidak bisa mendengar apa yang kau katakan!"

Jemaat lain yang ada di duduk di bagian depan berdiri dan menghadap ke belakang, lalu berkata, "Apa sih yang kamu keluhkan? Duduk saja dan bersyukurlah, sudah untung bisa duduk di belakang dan nggak dengar khotbahnya. Atau kita tukar tempat duduk saja?!"


Pendeta Lupa Nama Pasangan Pernikahan


Seorang pendeta menyiapkan diri untuk memberkati suatu pernikahan sesaat sebelum ibadah minggu dimulai.

Setelah doa ucapan syukur, ia berencana memanggil pasangan yang akan menikah ke altar untuk diberkati secara singkat di depan jemaat.

Namun, ia sama sekali tidak ingat nama pasangan yang akan diberkatinya. Akhirnya ....

"Yang akan menikah, saya persilakan maju ke altar?" pintanya.

Segera, 9 wanita single, 3 janda, 4 duda, dan 6 pria single maju ke depan.


Pendeta dan Supir Taksi


Setelah seorang pendeta meninggal dan masuk ke surga, ia melihat bahwa seorang supir taksi mendapat tempat yang lebih mulia darinya.

"Aku tidak mengerti," keluhnya pada Petrus. "Aku mengabdikan seluruh hidupku untuk jemaatku."

"Kebijakan kami di sini adalah tergantung dari hasilnya," jelas Petrus. "Apakah jemaatmu memerhatikanmu saat kamu memberikan khotbah?"

"Ya ...," pendeta itu mengakui, "beberapa jemaat selalu tertidur saat aku berkhotbah."

"Itu dia masalahnya," kata Petrus, "kamu tahu, saat orang naik taksi yang dikendarai supir taksi itu, mereka tidak hanya terus terjaga, mereka bahkan berdoa."


Tidak Boleh Berbisik-Bisik Saat Pendeta Makan Malam di Rumah
Pada suatu malam seorang Gembala Sidang diundang oleh salah anggota jemaat untuk makan malam bersama dengan keluarganya.

Setelah selesai makan malam dan ketika makanan pencuci mulut (buah-buahan) sedang dihidangkan, tiba-tiba anak laki-laki dari keluarga tersebut yang baru berumur tujuh tahun terlihat hendak membisikkan sesuatu kepada ibunya.

"Nak, tidaklah sopan berbisik-bisik di depan tamu yang sedang menikmati makan malam, katakan saja, tidak perlu berbisik-bisik," kata ibunya.

Setelah mendapat ijin dari ibunya, anak laki-laki itu langsung berkata, "Mama..., Pak Pendeta makannya banyak ya..."


Pendeta yang Ngebut Ditilang Polisi


Dua orang pendeta mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Mereka akhirnya diminta untuk berhenti oleh seorang polisi karena kecepatannya melebihi kecepatan maksimum yang sudah ditetapkan.

"Apa yang anda lakukan? Anda mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi."

Salah satu Pendeta berkata, "Kami mengendarai sepeda motor ini hanya sekedar putar-putar.....lihatlah motor ini memang sangat bagus dan kencang larinya."

Si Polisi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bagaimanapun juga, saya harus menilang anda. Mengemudi seperti itu sangat membahayakan jiwa anda. Bagaimana kalau anda mengalami kecelakaan?"

Kemudian Pendeta berkata lagi, "Jangan khawatir, Tuhan Yesus beserta kami."

Si Polisi berkata, "Wah, kalau begitu saya harus benar-benar menilang anda, karena tiga orang dilarang berada dalam satu motor sekaligus."


Kesedihan Pendeta Karena Jadi Korban Banjir


Seorang pendeta mengungsi ke rumah seorang majelis karena rumahnya kebanjiran. Dia merasa sedih sekali saat bertemu anggota jemaatnya yang kebetulan rumahnya tidak kebanjiran.

Katanya kepada majelis teman sekerjanya di gereja:
"Coba pak, gimana saya tidak sedih dan pilu terhadap anggota jemaat saya,yang tega bilang gara-gara saya kebanjiran katanya saya "kurang iman !".

Majelisnya menimpali katanya: "Emang itulah kenyataannya pak, ibarat sudah jatuh... ketimpa tangga... ketiban cat... digigit anjing lagi !?"


'Klaim' Pendeta Korban Banjir


Seorang pendeta merasa berduka dan marah kepada Tuhan karena rumahnya kebanjiran, dalam suatu kebaktian minggu dia berdoa, katanya:

"Bapa yang empunya langit dan bumi, kami anakMu,waris dari kerajaanMu berdoa dalam Nama Tuhan Yesus, kami 'klaim' janji kebenaran firmanMu..."
Seorang pendeta senior dari gereja lain yang kebetulan hadir digereja itu, berguman:

"Pendeta ini tidak sopan... baru jadi pendeta saja sudah klaim kepada Tuhan... emangnya asuransi "


Pendeta Dilarang Membalas


Pada suatu hari keluarga seorang Pendeta sedang berkendara untuk menghadiri suatu ibadah Natal. Maka dengan penuh sukacita Pak Pendeta bersama keluarganya menuju tempat yang tertera dalam undangan.

Sesampainya di tempat yang dituju ternyata halaman parkir telah dipenuhi oleh para undangan lain. Nampaknya ibadah ini cukup menarik minat banyak orang. Setelah berputar-putar, beruntung ternyata terdapat satu tempat parkir diantara mobil-mobil yang penuh sesak dan di sana sudah menunggu si tukang parkir.

Melihat mobil Pak Pendeta, dengan gesit tukang parkir memberikan tanda dan Pak Pendeta menghampirinya.

Setelah mengarahkan kendaraan ke tempat yang tersedia si tukang parkir dengan aba-abanya, "terus ... terus... kiri ... kiri ...."

Dengan dengan gesit Pak Pendeta mengikutinya. Tukang parkir terus mengarahkan, "balas ... balas ... balas...."

Dan tiba-tiba terdengar bunyi "DUK". Ternyata bemper mobil Pak Pendeta menyeruduk mobil lain. Dengan agak marah si tukang parkir menegor, "Bagaimana Bapak ini ... kan sudah saya arahkan balas ... balas ... malah terus saja."

Dengan tenang Pak Pendeta balas menjawab, "Dik ... saya ini Pendeta, harus mengasihi setiap orang dan dilarang membalas."


Nasihat Pendeta


Seorang pemuda yang akan berangkat ke ladang misi pamit pada Pendetanya.
"Pa, minta doa. Besok saya akan pergi ke ladang misi," katanya.

"Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak menenangkan jiwa."

"Bagaimana resepnya, Pa?"

"Ya, jika kau bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur."

"Bagaimana, jika bertemu dengan ketiganya, Bapa?"

"Ya, bicara saja soal gado-gado, Nak.."


Pendeta dan Singa


Seorang pendeta baru saja selesai memberitakan injil di desa sebelah. Dalam perjalanan pulang, karena hari sudah hampir malam, ia pun nekat untuk mengambil jalan pintas, melewati hutan belantara.

Di tengah hutan, ia bertemu seekor Singa yang kelihatannya sangat lapar. Ia pun berlutut dan berdoa,

"Tuhan, tolong tutuplah mulut Singa ini, agar dia tidak bisa menerkam aku".

Ketika selesai berdoa, ia melihat sang Singa juga sedang berdoa. Sang Pendeta pun mengucap syukur,

"Oh, Tuhan, terima kasih. Kau telah memberiku seekor Singa yang baik". Sang Singa pun lalu berkata,

"Betulll !!!, aku adalah Singa yang baik. Aku selalu berdoa mengucap syukur sebelum menyantap makananku".


Sumber : ketawa.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel